Anda bukan burnout, melainkan kelaparan secara eksistensial
(neilthanedar.com)- Fenomena merasa hampa dan lelah meskipun kondisi hidup cukup stabil didefinisikan sebagai ‘kekurangan eksistensial’
- Mengutip konsep ‘kehampaan eksistensial’ dari Viktor Frankl, perasaan ini dijelaskan bukan sebagai ketidaknyamanan yang harus dihilangkan, melainkan sinyal menuju makna
- Menyoroti kehidupan modern yang mencampuradukkan kenyamanan dengan kepenuhan, serta menekankan bahwa alih-alih sekadar pengembangan diri, kita perlu mengejar tujuan dan makna yang lebih besar
- Melalui pengalaman pribadi, penulis menyatakan bahwa pengejaran berkelanjutan terhadap ‘tujuan tertinggi’ dapat meredakan burnout dan memulihkan energi
- Menyimpulkan bahwa hidup yang mewujudkan potensi diri di berbagai bidang seperti politik, startup, dan seni membawa kepuasan serta vitalitas yang sejati
Kekurangan eksistensial dan kebutuhan akan makna
- Menjelaskan alasan seseorang tetap merasa lelah dan lesu meskipun hidupnya secara objektif stabil sebagai ‘kekurangan eksistensial’
- Mengutip konsep ‘kehampaan eksistensial’ yang diajukan dalam Man’s Search for Meaning karya Viktor Frankl
- Melalui contoh para penyintas yang kehilangan arah setelah perang, ditekankan bahwa pencarian makna adalah motivasi mendasar manusia
- Mengutip pemikiran Friedrich Nietzsche, penulis menyatakan bahwa makna hidup tidak berada di dalam diri semata, melainkan pada ‘sesuatu yang lebih tinggi di luar diri’
- Melalui pertanyaan “apa yang sejauh ini benar-benar kamu cintai?”, pembaca diajak menemukan hasrat paling mendasar dalam dirinya
- Menunjukkan nihilisme dan kesalahpahaman terhadap ‘YOLO’, lalu menegaskan bahwa bukan menyerah, melainkan usaha itu sendiri yang memberi makna pada hidup
Akar utama burnout dan respons yang keliru
- Menelusuri alasan seseorang tetap tidak bahagia meskipun telah meraih sukses profesional dan kemakmuran material
- Menggambarkan kenyataan bahwa meski sudah memiliki “pekerjaan bagus, startup, dan liburan”, seseorang masih tetap merasakan kelesuan pada Senin pagi
- Menunjukkan bahwa pengembangan diri dan optimasi produktivitas tidak mampu menyelesaikan masalah
- Rutinitas pagi, perbaikan tidur, dan sejenisnya tidak bisa mengisi kehampaan eksistensial
- Menekankan perlunya mengejar ‘memaksimalkan makna’ alih-alih ‘meminimalkan penderitaan’
- Generasi milenial dinilai sebagai generasi pertama yang berharap menemukan makna dalam pekerjaan, dan ini dipandang sebagai perubahan positif
Tanggung jawab setelah kemakmuran dan tujuan baru
- Mengutip isi buku Positive Politics, penulis menjelaskan bahwa era setelah garis kemiskinan adalah era melampaui ‘garis kemakmuran’
- Jika 200 tahun kemajuan terakhir telah membawa umat manusia keluar dari kemiskinan, maka 100 tahun ke depan menuntut demokratisasi kemakmuran
- Mengajukan dua tanggung jawab bagi orang yang telah mencapai kemakmuran pribadi
- Pertama, membagikan kemakmuran itu kepada orang lain
- Kedua, mencari pekerjaan yang lebih bermakna melampaui pengejaran material
Pengalaman pribadi dan penemuan kembali ‘tujuan tertinggi’
- Melalui mimpi masa kecilnya menjadi pemain hoki, astronaut, dan presiden, penulis mengenang ingatan akan hasrat yang murni
- Ia mengakui bahwa suara itu sempat menghilang karena ejekan sosial dan keterbatasan realitas
- Setelah melewati tiga startup, tiga organisasi nirlaba, dan membesarkan tiga anak, ia berhasil menemukan kembali suara batinnya
- Setelah masa ketika ia dijuluki “pakar lab”, ia beralih ke arah yang mengejar makna lebih besar daripada uang
- Pada 2020~2025, melalui keterlibatan politik dan kegiatan menulis, ia membangun identitas baru
- Lewat proyek World’s Biggest Problems dan Positive Politics, ia mendedikasikan diri pada politik positif dan gerakan antikorupsi
Hidup yang berpusat pada makna dan saran praktis
- Menyatakan bahwa perubahan positif bisa diciptakan melalui beragam jalur seperti politik, startup, nirlaba, sains, dan seni
- Setiap orang perlu memilih jalan yang sesuai dengan tujuan tertinggi jangka panjangnya
- Menunjukkan bahwa ‘budaya hustle’ maupun ‘anti-hustle culture’ sama-sama tidak lengkap
- Yang penting bukan jumlah kerja, melainkan merancang seluruh hidup dengan makna sebagai pusatnya
- Menganjurkan untuk memulai dari langkah kecil
- Mengusulkan tindakan langsung seperti menjadi relawan satu jam per minggu untuk kampanye politik atau organisasi nirlaba
- Mendorong tantangan di luar politik juga, seperti dalam kreasi, sains, dan teknologi
- Ditutup dengan pesan: “mulailah sekarang juga menuju potensi tertinggimu”
Wajah burnout yang sebenarnya
- Mendefinisikan burnout bukan sebagai akibat kerja berlebihan, melainkan hasil dari ‘kekurangan makna’
- Ditegaskan bahwa “masalahnya bukan terlalu banyak pekerjaan, melainkan terlalu sedikit ‘pekerjaan yang penting’”
- Saat seseorang bergerak menuju tujuan sejatinya, kelelahan menghilang dan energi kembali pulih
- Menemukan kembali gairah masa kecil disebut sebagai jalan untuk mengatasi rasa lapar eksistensial
- Ketika seluruh hidup disusun ulang dengan makna sebagai pusat, burnout akan memudar dan rasa penuh dari dalam diri akan pulih
1 komentar
Komentar Hacker News
Premis tulisannya menarik, tetapi terasa tidak lengkap
‘Tes antusiasme Senin pagi’ tidak mempertimbangkan adaptasi hedonis (hedonic treadmill). Bahkan pekerjaan yang bermakna pun pada akhirnya terasa biasa ketika sudah terbiasa
Banyak orang bukan sekadar mengalami kehampaan eksistensial, melainkan burnout akibat kerja berlebihan. Ini adalah masalah struktural di mana orang harus menanggung pekerjaan, keluarga, dan perawatan diri sekaligus
Makna itu penting, tetapi tidak harus selalu datang dari pekerjaan. Terkadang pekerjaan hanyalah bahan bakar untuk mempertahankan hidup, dan makna yang sebenarnya datang dari relasi, hobi, serta keterlibatan dalam komunitas
Usulan untuk terjun ke politik itu menarik. Melihat permainan zero-sum sebagai sumber kepenuhan eksistensial terasa paradoksal
Sejak tulisan itu berubah dari ‘you’ menjadi ‘I’, rasanya seperti pamer autobiografis dan promosi buku
Tidak semua orang harus punya pekerjaan impian. Beberapa impian memang tidak ada di dunia nyata, dan seseorang tetap harus melakukan pekerjaan biasa yang menopang dunia
Aku ingin menekankan bahwa depresi dan burnout itu berbeda. Jika kamu tidak bisa bangun pada Senin pagi dan tidak tertarik pada apa pun, yang kamu butuhkan mungkin bukan tujuan hidup melainkan bantuan medis. Kita harus bersikap baik pada diri sendiri
Tulisan itu terasa seperti persimpangan antara politik dan iklan buku swadaya. Nadanya seperti, ‘kamu bekerja keras dengan cara yang salah, biar aku tunjukkan cara yang benar,’ dan highlight kuning itu makin mengurangi kepercayaan
Aku juga merasa relate dengan tulisan ini. Selama 10 tahun terakhir aku membangun startup unicorn, tetapi sekarang aku merasakan kehampaan dan burnout. Akhirnya aku memutuskan mengajukan pengunduran diri dan mengambil cuti panjang. Aku ingin menemukan gairah lagi, tetapi itu tidak mudah
Mengukur kesuksesan dari ‘antusiasme pada Senin pagi’ itu bermasalah. Pada akhirnya manusia jatuh ke dalam adaptasi hedonis. Seberapa menarik pun sebuah pekerjaan, ketika sudah terbiasa, itu akan terasa biasa
Yang membantuku justru mengembangkan hobi dan relasi di luar pekerjaan. Sekarang aku jauh lebih merasa penuh dibanding masa startup dulu
Burnout dan overwork itu berbeda. Jika kenaikan gaji atau liburan bisa menyelesaikannya, itu berarti overwork. Burnout adalah keadaan ketika kamu mulai bertanya, ‘kenapa aku melakukan ini?’ dan hidup terasa mati rasa. Ini hampir seperti depresi akibat pekerjaan
Aku suka pertanyaan tentang makna hidup dari John Vervaeke
Kebanyakan orang tidak punya jawabannya, tetapi hanya dengan merenungkan pertanyaan ini saja kepuasan hidup bisa meningkat
Aku membesarkan dua anak sambil menjalani pekerjaan yang berat, dan di sisa waktu masih harus mengurus pekerjaan rumah serta diri sendiri, jadi aku mengalami burnout karena kekurangan waktu. Aku merasa punya tujuan dari merawat keluarga, tetapi tidak punya ruang bernapas. Mungkin orang yang punya banyak uang dan tidak punya anak akan lebih relate dengan tulisan ini
Tahun ini aku merawat orang tua di masa akhir hidup mereka, dan itu membuatku meninjau ulang hidupku. Pengalaman itu mengubahku sepenuhnya. Akhirnya aku melepaskan posisi VP engineering dan memutuskan melakukan apa yang benar-benar ingin kulakukan. Menakutkan, tetapi untuk pertama kalinya setelah lama, aku kembali merasakan antusiasme di pagi hari