Disosiasi yang Indah dalam Bahasa Jepang
(aethermug.com)- Keasingan bahasa Jepang bukan terutama berasal dari penggunaan bersama kanji, hiragana, dan katakana, melainkan dari pemisahan antara aksara dan bunyi ujaran; ketidaksinkronan ini sekaligus meningkatkan tingkat kesulitan dan daya ekspresinya
- Ketika aksara Tionghoa masuk ke Jepang pada abad ke-5, kanji mulai diubah dan digunakan baik untuk penulisan makna maupun penulisan bunyi agar sesuai dengan bahasa Jepang yang strukturnya berbeda
- Karena satu kanji dapat dibaca dengan beberapa pelafalan, atau beberapa kanji dibaca seperti satu kata, pembaca harus mempelajari pembacaan pada tingkat kata secara terpisah, bukan sekadar aksaranya
- Kata-kata dengan pelafalan yang sama pun maknanya terpecah bergantung pada pilihan kanji, dan informasi yang tidak cukup disampaikan lewat bunyi saja—seperti pada nama, verba, dan istilah kekerabatan—dilengkapi di lapisan tulisan
- Gikun, yaitu memberi furigana berupa kata lain alih-alih pelafalan kamus, menyampaikan dua makna sekaligus dalam manga dan novel, menciptakan ruang ekspresi dalam teks Jepang yang sulit diterjemahkan
Bahasa yang aksara dan bunyi ucapannya tidak selaras
- Bahasa Jepang sering terlihat sulit karena banyaknya kanji, penggunaan hiragana dan katakana secara bersamaan, ungkapan yang sulit diterjemahkan, urutan kata subjek-objek-verba, serta ketergantungan pada konteks
- Namun faktor-faktor ini saja tidak membuat bahasa Jepang menjadi istimewa
- Bahasa Mandarin memakai lebih banyak aksara dan tata bahasanya lebih sederhana
- Setiap bahasa memiliki ungkapan yang sulit diterjemahkan
- Ada juga budaya yang memakai beberapa sistem tulisan sekaligus
- Hal yang lebih khas adalah bahwa apa yang ditulis dan apa yang diucapkan secara historis terus berkembang bersama dalam keadaan tidak sepenuhnya selaras
- Pemisahan ini menyulitkan pembelajar, tetapi juga menciptakan teknik sastra dan lapisan makna yang khas dalam bahasa Jepang
Ketegangan yang muncul saat aksara Tionghoa disesuaikan dengan bahasa Jepang
- Bahasa Jepang hadir sebagai bahasa lisan selama berabad-abad, lalu mulai dituliskan ketika aksara Tionghoa masuk ke kepulauan Jepang pada abad ke-5
- Aksara Tionghoa adalah logogram, dengan setiap karakter terhubung pada makna tertentu, dan merupakan sistem yang berkembang sesuai struktur bahasa Mandarin
- Bahasa Jepang dan Mandarin sangat berbeda dalam pelafalan, tata bahasa, dan struktur kosakata, sehingga aksara Tionghoa sulit diterapkan begitu saja
- Dalam bahasa Mandarin,
chīberarti “makan”, sedangkanchīlesetara dengan “sudah makan” karena ditambahleyang menandai aspek selesai - Dalam bahasa Jepang, bentuk kata itu sendiri berubah, seperti
taberumenjaditabeta
- Dalam bahasa Mandarin,
- Para penyalin Jepang awal memakai kanji bukan hanya untuk makna, tetapi juga untuk penulisan bunyi
- Bagi pembaca Mandarin, cara ini dapat tampak seperti rangkaian karakter acak tanpa struktur
- Bagi pembaca Jepang, itu dibaca sebagai nilai bunyi dari kata-kata yang sudah dikenal
Peran kana dan furigana
- Penggunaan kanji yang hanya menunjukkan bunyi, yaitu man'yougana, seiring waktu disederhanakan dan distandardisasi
- Dari man'yougana lahir hiragana dan katakana modern, dan keduanya bersama-sama disebut kana
- Dalam bahasa Jepang modern, kanji terutama memegang peran makna, sedangkan hiragana dan katakana menangani penulisan berbasis bunyi serta unsur tata bahasa
- Untuk mengatasi ketidakpastian pelafalan kanji, digunakan furigana
- Furigana adalah kana kecil yang ditempatkan di samping atau di atas kanji sulit untuk memberi tahu cara membacanya
- Karena siswa terus mempelajari kanji dasar hingga akhir SMA, furigana sering diperlukan
- Bahkan dalam teks untuk orang dewasa, furigana dipasang pada kata langka atau bacaan yang mudah terlupakan
Fenomena ganjil yang diciptakan oleh pembacaan kanji
-
Satu kanji, banyak bacaan
- Dalam bahasa Mandarin, satu karakter biasanya terhubung dengan satu pelafalan, tetapi dalam bahasa Jepang satu kanji dapat dibaca dengan berbagai cara
- Dalam kasus ekstrem, satu kanji dapat memiliki lebih dari 15 bacaan
- Karena kanji yang sama kurang lebih mewakili makna dari beberapa kata Jepang, korespondensi antara pelafalan dan makna menjadi longgar
- Pembaca Jepang bisa hampir tidak memiliki petunjuk untuk menebak pelafalan saat melihat kanji yang tidak dikenal
- Bahasa Inggris juga memiliki ketidaksesuaian antara ejaan dan pelafalan, tetapi dalam bahasa Jepang persoalannya membesar sampai pada tingkat tidak tahu seluruh kanji akan dibaca dengan bunyi apa
-
Keterampilan tersendiri untuk menjelaskan nama
- Karena sifat kanji, nama orang sering kali sulit ditulis hanya dengan mendengarnya
- Di Jepang, bahkan untuk pelafalan nama yang umum, orang kerap memilih kanji yang berkarakter, sehingga pelafalan dan penulisannya tidak mudah dipetakan
- Saat menjelaskan nama, orang menyebut kata terkenal yang memuat kanji tersebut, atau menguraikan karakter itu menjadi komponen yang lebih sederhana
- Pemilihan aksara berfungsi bukan sebagai ejaan biasa, melainkan sebagai lapisan yang memuat makna dan kepribadian
-
Bacaan yang tidak bisa dipecah, jukujikun
- Jukujikun merujuk pada kasus ketika pelafalan sebuah kata bukan gabungan dari bacaan umum masing-masing kanji penyusunnya
- Pada kata majemuk biasa, cukup menyambungkan bacaan kanji
- Sebagai contoh, 美術 adalah
bijutsu, gabunganbidari 美 danjutsudari 術, dan berarti “art”
- Sebagai contoh, 美術 adalah
- Namun 大人 ditulis dengan 大 yang berarti “big” dan 人 yang berarti “person”, tetapi dibaca
otona- Ini tidak bisa dibagi menjadi
otodanna, atauodantona - Walau tiap kanji dicari secara terpisah, bacaan nyata dari kata ini tidak akan didapat
- Ini tidak bisa dibagi menjadi
- Pada sebagian kata, jumlah kanji lebih banyak daripada jumlah suku kata, sehingga korespondensi antara unit tulisan dan unit bunyi makin runtuh
-
Dua kata yang dibungkus satu kanji
- Sebagian verba secara historis terbentuk dari gabungan dua kata, tetapi dalam ejaan modern tampak seperti satu kanji dan akhiran
- Contohnya 司る
tsukasadoru, verba yang berarti “mengemban” atau “mengurus/mengawasi”- Secara etimologis, ini adalah gabungan 官
tsukasa, “jabatan berwenang”, dan 取るtoru, “mengambil” - Seiring waktu, bentuk gabungan itu menjadi lazim dan ditulis ringkas dengan kanji tersendiri
- Secara etimologis, ini adalah gabungan 官
- Bentuk seperti ini menunjukkan bahwa kanji adalah unsur yang kemudian ditambahkan di atas kosakata lisan yang sudah ada
- Pada saat yang sama, kelonggaran dalam penulisan bahasa Jepang juga menghasilkan kepraktisan untuk memendekkan ungkapan panjang
Cara kanji mengurangi ambiguitas bunyi ujaran
- Bahasa Jepang berbasis bunyi memiliki banyak pelafalan yang sama tetapi dipakai untuk berbagai makna
- Kanji membedakan kata-kata yang berpelafalan sama menjadi makna berbeda, sehingga meningkatkan presisi bahasa tulis
- Verba dengan pelafalan yang sama pun dapat ditulis dengan kanji berbeda sesuai konteks, sehingga nuansanya bisa dipisahkan
- Istilah kekerabatan
itokodiperlakukan sebagai satu bentuk saat diucapkan, tetapi dalam tulisan hubungan gender dapat diperinci lewat kombinasi kanji- Kanji seperti 兄, 弟, 姉, 妹 digunakan
- 従 ditempatkan di depan untuk menunjukkan hubungan sepupu yang bersifat timbal balik
- Kanji menambahkan lapisan makna ke dalam tulisan yang tidak ada dalam bahasa lisan
Makna ganda yang diciptakan gikun
- Gikun adalah cara memberi furigana dengan bacaan lain, bukan pelafalan umum dari kanji atau kata
- Jika furigana biasa memberi tahu bacaan kamus, gikun mengubah pelafalan dan menimpakan makna tambahan
- Dalam manga, gikun menyampaikan bunyi ujaran dan makna tulisan secara bersamaan dalam satu adegan
- Di atas kanji yang berarti “heat” diberi furigana
hidari, yaitu “left”, sehingga karakter mengatakan “kiri” sementara teks sekaligus menyampaikan “panas” - Pada kata bentukan seperti “automail” yang merujuk pada lengan mekanis, kanji memberi makna “mechanical armor”, sementara furigana memberi pelafalan bernuansa kata asing
- Furigana yang setara dengan “this place” juga dapat ditempatkan di atas kanji “hospital” untuk memperjelas lokasi saat ini
- Di atas kanji yang berarti “heat” diberi furigana
- Dalam novel, gikun juga digunakan sebagai perangkat untuk mengatur suasana dan makna
- Natsuhiko Kyogoku memberi furigana dengan bacaan yang dapat dikenali pembaca modern pada kanji kuno dan langka
- Dalam Norwegian Wood karya Haruki Murakami, di atas kanji bermakna “remote region” ditempelkan bacaan katakana dari kata asing “limbo”, menciptakan sekaligus nuansa kata asing yang misterius dan makna tempat tersembunyi
- Gikun membuat teks terasa seperti pengalaman membaca secara stereo, sehingga dua bentuk pesan bertumpuk atau bercampur pada saat yang sama
Dampak praktis dan sastra dari penulisan bahasa Jepang
- Pemisahan antara aksara dan pelafalan membuat bahasa Jepang sulit dipelajari
- Pemisahan yang sama juga membuat bahasa Jepang menjadi sistem ekspresi yang lebih lentur dan kaya
- Kanji, kana, furigana, dan gikun masing-masing membagi peran: bunyi, makna, pembacaan bantu, dan ketidaksesuaian yang disengaja
- Bahasa Jepang dapat menambahkan makna dalam tulisan yang tidak ada pada bunyi ujaran saja, atau sengaja membuat tulisan dan pelafalan tidak selaras untuk menghasilkan efek baru
- Kebetulan historis ini memberi bahasa Jepang dimensi tambahan yang sulit dipindahkan apa adanya ke bahasa lain
1 komentar
Komentar Hacker News
Sebagai penutur asli bahasa Inggris yang sudah lama tinggal di Jepang dan fasih berbahasa Jepang, saya merasa menarik karena tulisan itu menyoroti banyak ciri bahasa Jepang yang selama ini saya anggap biasa saja
Hal yang secara khusus saya berharap dibahas dalam tulisan itu adalah onomatope dan mimetik. Bahasa Jepang memakai ungkapan seperti ini secara sangat luas, dan bunyi sering kali memiliki makna indrawi yang kuat
Misalnya tsuru-tsuru menggambarkan tekstur yang halus dan licin, pera pera memberi kesan fasih berbicara bahasa asing, tatata adalah suara berlari cepat, bisho bisho berarti basah kuyup, gussuri berarti tertidur pulas, dan zukizuki menggambarkan nyeri yang hebat. Ada ratusan hingga ribuan ungkapan seperti ini, dan menurut saya itulah yang membuat bahasa Jepang terasa “kaya, unik, dan berbeda”
Dalam bahasa Inggris biasanya semuanya diterjemahkan sebagai onomatopoeia, tetapi pada dasarnya giongo menggambarkan bunyi fisik yang dihasilkan makhluk hidup maupun benda mati, sedangkan gitaigo menggambarkan efek abstrak seperti keadaan emosi atau tingkat energi
Penjelasan lebih rinci ada di Wikipedia bahasa Jepang: https://ja.wikipedia.org/wiki/%E6%93%AC%E5%A3%B0%E8%AA%9E
Saat kecil belajar bahasa Jepang, saya merasa orang Jepang seolah punya telinga yang berbeda dari saya. Sekarang saya menganggapnya mungkin lebih dekat ke soal konvensi sosial, tetapi tetap saja menarik
Sampai sekarang, setiap kali menemukan ungkapan baru, saya terus takjub bahwa ada orang yang memberi bunyi pada sensasi itu. Favorit saya sejauh ini adalah mozomozo, yang dipakai istri saya untuk menggambarkan bayi yang mengayun-ayunkan lengannya
Dari sudut pandang orang yang bisa berbahasa Mandarin dan sedang belajar bahasa Jepang, saya terkejut karena bahasa Jepang terasa luar biasa kompleks dan tidak transparan
Bahasa Mandarin, terutama Kanton, punya 7–9 nada dan banyak aksara Han, tetapi setelah menghafal 2.000–3.000 karakter pertama, kita bisa mengisi celah lewat radikal, pola, dan makna. Tata bahasanya hanya berupa kerangka; aturan yang saya ingat mungkin sekitar 5–10, dan sisanya sangat mudah
Sebaliknya, dalam bahasa Jepang saya mempelajari 2–3 aturan tata bahasa di setiap kelas. Seperti dalam bahasa Mandarin, jauh lebih mudah bila satu karakter dibaca dengan satu cara, dan komunikasinya juga lebih langsung daripada bahasa Inggris. Dalam bahasa Jepang, konteks budaya, cara berekspresi, partikel akhir kalimat, dan perubahan kosakata yang halus dapat sangat mengubah makna
Saya butuh 5 tahun untuk fasih berbahasa Mandarin, tetapi untuk bahasa Jepang rasanya bahkan 10 tahun lagi pun saya baru akan nyaris mencapai kefasihan percakapan. Sebagai bahasa untuk berkomunikasi, rasanya tidak efisien, dan saya tidak mengerti mengapa harus serumit ini
Misalnya Dictionary of Intermediate Japanese Grammar mencantumkan ~に比べると sebagai item tata bahasa, tetapi ungkapan yang berarti “jika dibandingkan dengan ~” ini lebih mirip penggunaan khusus yang menggabungkan partikel に, verba tertentu, dan と kondisional, bukan tata bahasa baru
Dari pengalaman saya, tata bahasa Jepang sendiri bukan sangat rumit secara khusus; yang membuatnya asing adalah cara kerjanya berlawanan arah dengan bahasa Indo-Eropa. Kosakatanya sulit karena asal-usul bersama tidak membantu seperti antara bahasa Inggris dan Prancis, tetapi sepertinya itu juga mirip dengan bahasa Mandarin. Sistem tulisannya memang agak aneh, tetapi sama sekali tidak penting untuk kefasihan percakapan
Tentu saja kalau sudah masuk ke ragam hormat tingkat tinggi, ia menjadi cukup rumit, tetapi itu bisa dipelajari setelah fasih dalam gaya sehari-hari dan gaya sopan biasa
Saya tidak terlalu tahu bahasa Mandarin, tetapi saya pernah membaca bahwa strukturnya seperti bahasa Inggris, yaitu subjek-verba-objek, jadi mungkin itulah sebabnya terasa lebih mudah daripada bahasa Jepang. Karena tinggal di Jepang dan memakainya setiap hari, saya menjadi fasih dalam sekitar 6 bulan hingga 1 tahun, dan sangat terbantu oleh cara mempelajari kalimat utuh lebih dulu lalu memahami logika tata bahasanya belakangan
Bahasa-bahasa tidak menghilangkan kompleksitas, melainkan hanya memindahkannya ke tempat yang berbeda. Dalam bahasa Jepang hanya ada 3 verba tak beraturan di seluruh bahasa, tidak perlu menandai tunggal-jamak, dan tidak ada persoalan kesesuaian verba maupun adjektiva
Tentu saja ini bisa jadi penjelasan yang terlalu disederhanakan
Jika aturan semacam itu tidak diikuti, secara teknis tata bahasanya benar, tetapi bagi penutur asli terdengar canggung. Misalnya baru-baru ini saya mengetahui bahwa dalam Mandarin, nada suatu karakter berubah ketika membentuk kata. Angka 一 punya 3 nada tergantung konteks—saya benar-benar heran
Selama 15 tahun terakhir saya belajar bahasa Jepang dan Mandarin, dan artikelnya menarik, tetapi terasa agak kurang memuaskan
Saya berharap ada wawasan tentang banyaknya cara untuk mengucapkan satu “terima kasih” sederhana dalam bahasa Jepang, serta bagaimana kompleksitas itu terkait dengan sosioekonomi, kelas, dan sejarah, bukan hanya saat ini tetapi juga secara historis
Secara pribadi, menurut saya orang berpendidikan tinggi bisa menyampaikan resolusi yang jauh lebih tinggi hanya dengan ungkapan terima kasih dalam bahasa Jepang dibandingkan bahasa Inggris. Namun dalam sebagian besar kasus di antara ketiga bahasa itu, bahasa Inggris tampaknya memiliki resolusi terbaik
Dalam bahasa Mandarin, sangat sulit menyampaikan perbedaan halus seperti “Bagaimana menurutmu kalau John membantu mencuci piring malam ini?”, “John, bisakah kamu membantu mencuci piring malam ini?”, dan “Akan sangat berarti bagiku kalau John membantu mencuci piring malam ini.” Terutama dalam penjualan dan pemasaran, resolusi sedetail itu benar-benar dibutuhkan, tetapi dalam bahasa Mandarin, sekalipun mungkin dilakukan, audiens mudah kehilangan fokus. Dalam 99,99% kasus, penutur Mandarin mengharapkan sesuatu seperti “Mau bantu cuci piring malam ini?”
Contoh tentang menggabungkan Hanzi dan akar kata untuk membuat karakter yang kompleks memang menarik, tetapi di kepala pembaca penutur asli, sebenarnya tidak bekerja seperti itu. Mereka hanya menghafal maknanya lalu lanjut. Seperti halnya perlu pendidikan untuk mempelajari dan mengenali akar Latin dalam bahasa Inggris, pendidikan serupa juga diperlukan dalam bahasa Jepang dan Mandarin
Saya juga penasaran apakah itu berarti penutur Mandarin pada umumnya mengungkapkan sesuatu dengan cara yang mirip, terlepas dari status sosial lawan bicara
Saya pernah berkesempatan berbicara dalam bahasa Inggris dengan beberapa penutur Mandarin, dan meskipun sikap mereka saat meminta sesuatu tidak kasar, cara mengungkapkannya cukup langsung, dan kadang terasa seolah hasil dari permintaan itu sudah ditentukan
Sebagai orang Korea yang belajar bahasa Jepang, saya bisa memahami bahwa sistem tulisan campuran kanji dan kana bisa terlihat eksotis, tetapi dari sudut pandang pembelajar, rasanya lebih seperti kerepotan yang muncul dari sistem tulisan yang belum sepenuhnya dioptimalkan
Saya sering bertanya-tanya apakah hiragana dan katakana benar-benar sama-sama diperlukan
Saya tidak bermaksud mengklaim bahwa bahasa Korea secara keseluruhan adalah bahasa yang lebih teroptimalkan, tetapi setidaknya dalam sistem tulisan, Korea pernah mengalami masalah yang persis sama dengan Jepang. Jika melihat koran Korea beberapa dekade lalu saja, isinya penuh Hanja, tetapi pada suatu titik Korea sepenuhnya meninggalkan Hanja dan kehidupan sehari-hari tetap berjalan tanpa masalah. Malah dalam banyak hal, seperti input keyboard, hidup menjadi lebih mudah
Tentu ada efek samping ketika beralih ke sistem tulisan fonetik sepenuhnya. Misalnya “tea” dan “car” dalam bahasa Korea memiliki pelafalan yang sama, cha, sehingga tidak dibedakan dalam tulisan, tetapi saat memakai Hanja dibedakan sebagai 茶/車. Saya tidak tahu bagaimana efek samping seperti ini menyebar secara sosiolinguistik, tetapi setidaknya bagi orang rata-rata tampaknya tidak terlalu berarti
Selain itu, bahasa Jepang tidak memakai spasi, jadi menulis sebagian hal dengan katakana dan sebagian dengan hiragana membantu memisahkan kata
Menarik juga bahwa “cha” dalam bahasa Korea dibaca cha, bukan sha. Sebab on’yomi 車 dalam bahasa Jepang, sha, dipinjam dari bahasa Tionghoa. Jika bahasa Korea meminjam dari bahasa Jepang, kun’yomi kuruma kemungkinan besar tidak akan tertukar dengan kata lain dalam bahasa Korea
Seperti Korea yang meninggalkan Hanja, Jepang tampaknya juga bergerak ke arah itu dengan sangat perlahan. Ada banyak kata yang punya penulisan kanji, tetapi kini tidak ada lagi yang memakainya dan orang lebih memilih hiragana. Ekspresi pinjaman dari bahasa Inggris juga makin banyak. Misalnya 切符(kippu) dulu adalah kata Jepang umum untuk “tiket”, tetapi sekarang banyak orang memakai チケット(chiketto) yang berasal dari bahasa Inggris
Saat melihat bahwa giyeok mewakili bunyi k/g dan huruf seperti a, saya kagum karena desain Hangul benar-benar cerdas
Hal yang menarik dari gikun adalah bentuknya sangat beragam tergantung tujuan stilistis teks
Sebagian besar merupakan cara praktis untuk menyisipkan penjelasan tanpa memutus alur tulisan, mirip bentuk yang lebih ringkas dari tanda kurung atau catatan kaki
Dalam puisi klasik, ia digunakan untuk berbagai efek; misalnya bisa menciptakan sinekdoke baru. Satu sisi gikun dapat menunjuk pada musim, sementara sisi lainnya menunjuk pada detail utama yang secara pribadi diasosiasikan penyair dengan musim tersebut
Pembelajar bahasa Jepang modern biasanya paling sering menyadarinya dalam manga dan novel fantasi/SF. Dalam genre ini, gikun dipakai untuk memperkenalkan istilah internal dunia cerita sekaligus menunjukkan maknanya. Dalam kasus ekstrem, ini memungkinkan cerita memasukkan sangat banyak istilah khusus dunia tanpa memperlambat laju cerita, dan menjadi tantangan yang cukup besar bagi penerjemah
Awalnya, dalam bahasa Tionghoa, “kata” umumnya terdiri dari satu karakter
Menariknya, banyak kata majemuk yang umum terlihat dalam bahasa Tionghoa modern dibuat oleh para cendekiawan Jepang sekitar abad ke-19 untuk menerjemahkan literatur Barat, lalu “diimpor” kembali ke bahasa Tionghoa
Contoh dalam artikel, “art” (美术) dan “science” (科学), keduanya juga berasal dari bahasa Jepang. Namun tetap terlihat bahwa pembuat istilah memilih tiap karakter agar maknanya terkait dengan konsep tersebut
Mengenai “Fenomena aneh 6”, menyediakan potongan kalimat yang sama dalam dua versi bukanlah hal yang begitu langka juga dalam sastra non-Jepang
Misalnya, dalam War and Peace versi Rusia aslinya, kata dan frasa Prancis bercampur di sana-sini, dan semuanya diterjemahkan lewat catatan kaki. Memang tidak senyaman Gikun dan pembaca harus mengalihkan pandangan ke atas-bawah halaman, tetapi idenya sama
Dalam bahasa lisan pun, mencampurkan kata asing sering membantu menyampaikan nuansa yang ingin diucapkan. Sebuah kata mungkin tidak ada dalam bahasa tertentu, memerlukan ungkapan yang lebih panjang, atau tidak memiliki makna yang persis sama. Di keluarga multibahasa, hal seperti ini sangat umum
Jadi kalau dipikir-pikir, “Fenomena aneh 6” sebenarnya tidak seaneh itu. Meski begitu, tulisannya sendiri enak dibaca
Pada edisi revisi pertama, para bangsawan memakai bahasa Prancis pada saat yang tepat. Pada zaman Tolstoy, “semua orang” bisa berbahasa Prancis sampai taraf tertentu. Mirip dengan orang-orang IT di seluruh dunia yang dengan santai menautkan ke dokumen bahasa Inggris asli
Belakangan terungkap bahwa “semua orang” itu sebenarnya berarti “bangsawan berpendidikan tinggi seperti Tolstoy”, dan pada edisi revisi kedua Tolstoy menulis ulang semua ujaran berbahasa Prancis menjadi bahasa Rusia. Sebagian besar bagian filosofis juga dipindahkan ke bagian penutup terpisah
Setelah itu bentuknya kembali lagi ke bentuk semula, tetapi teks Prancis diberi terjemahan catatan kaki. Edisi revisi kedua dipakai untuk edisi “murah”, sedangkan edisi revisi ketiga dipakai untuk edisi yang lebih premium. Cetakan Soviet sesudahnya mengikuti edisi kumpulan karya yang didasarkan pada revisi yang memuat bahasa Prancis, dan cetakan serta manuskripnya dibandingkan secara sangat teliti
Bergantung pada usia dan sumber terjemahannya, Anda bisa melihat bentuk mana pun di antaranya. Sebagian penerjemah juga menerjemahkan saja bahasa Prancisnya tanpa memakai catatan kaki
Sebelum reformasi bahasa 1917–1918, “damai” ditulis “миръ”, sedangkan “dunia” ditulis “мiръ”. Ada legenda bahwa Tolstoy pada awalnya bermaksud “dunia”, dan memang epilog bagian 2 berisi pemikiran tentang mengapa perang terjadi dan bagaimana dampaknya terhadap seluruh dunia
Namun semua edisi yang terbit semasa Tolstoy masih hidup memakai judul “Война и миръ”, yaitu “damai”, dan judul Prancis yang ditulis Tolstoy juga “La guerre et la paix”. Ada berbagai penjelasan tentang legenda ini
https://ru.m.wikipedia.org/wiki/%D0%92%D0%BE%D0%B9%D0%BD%D0%...
Untuk sudut pandang lain tentang apa yang disebut “ambiguitas” bahasa Jepang, saya merekomendasikan buku Jay Rubin dalam seri Power Japanese, Gone Fishin: New Angles on Perennial Problems
https://openlibrary.org/works/OL5609329W/Gone_Fishin%27
Klaim bahwa bahasa Jepang pada dasarnya ambigu sering kali muncul karena orang belum cukup memahami bahasanya, frustrasi ketika mencoba menerjemahkan kata-kata yang punya makna tepat dalam bahasa Jepang tetapi tidak punya padanan dalam bahasa lain, atau berfokus pada bahasa sastra dan kreatif. Tentu saja bahasa seperti itu bisa samar dan implisit
Saat diperlukan, bahasa Jepang bisa sejelas dan setepat bahasa apa pun. Misalnya, perancangan, manufaktur, dan pengoperasian Shinkansen hampir seluruhnya diwujudkan melalui jutaan dokumen dan percakapan berbahasa Jepang. Selama 60 tahun beroperasi tidak pernah ada kecelakaan besar, dan itu mustahil jika bahasanya memang ambigu secara inheren
Sebagai pembuat Japanese Complete, saya ingin mengatakan bahwa kami sedang bekerja keras membuat versi multiplayer dari kurikulum ini agar pembelajaran bahasa Jepang menjadi lebih menarik
Saya menghargai pembahasan tentang keindahan bahasa Jepang dan ambiguitasnya yang bergantung pada konteks. Bahasa Jepang adalah cara yang sama sekali baru untuk memandang dunia: situasi itu sendiri merupakan momen memetik yang dinamis, dan sifat fenomena yang terus bergetar terus-menerus ditekankan lewat akhiran verba aktif yang mirip dengan “-ing” dalam bahasa Inggris
Saya harus meminta maaf sesuai kebiasaan Jepang karena terlambat menghadirkan versi multiplayer dari kurikulum peraih penghargaan ini. Saya ingin membantu seluruh dunia mempelajari bahasa Jepang dan memahami cara baru dalam memandang dunia dan pengalaman
Saya tergelitik ketika orang mengatakan suatu ungkapan tidak bisa diterjemahkan
Apa maksudnya? Apakah maksudnya itu rangkaian bunyi yang dipakai untuk menyampaikan makna tertentu dalam konteks tertentu, tetapi frasa yang lebih besar itu tidak bisa dipecah menjadi kata, token, atau konsep tersendiri? Apakah ada hal seperti itu juga dalam bahasa Inggris?
Misalnya, otsukaresama yang disebut penulis juga dipakai ketika sampai di tujuan setelah mengemudi lama membawa penumpang, dan dipakai pula dalam sangat banyak situasi lain. Namun dalam bahasa Inggris pada dasarnya tidak ada kebiasaan pengemudi berterima kasih kepada penumpang karena sudah bersabar. Jadi bagaimana harus menerjemahkannya? Terjemahan harfiah seperti “orang yang terhormat karena lelah” sama sekali tidak bisa dipahami
Tentu saja kata-katanya bisa dipoles untuk menciptakan makna yang mirip, tetapi menyampaikan keseluruhan makna aslinya bisa sulit atau nyaris mustahil. Terutama ketika harus ringkas dan tidak bisa disesuaikan dengan kalimat panjang yang bertele-tele
Karena itu terjemahan yang baik adalah keterampilan sekaligus seni. Teks yang sama bisa memberi dampak yang sangat berbeda kepada pembaca, tergantung siapa yang menerjemahkannya
Menjelaskan the shit kepada orang yang fasih berbahasa Inggris tetapi tidak akrab dengan budaya Amerika hampir mustahil. Ada perbedaan kualitatif antara “You are very good” atau “You are the best” dan “You are the shit”; itu bukan sinonim yang persis
Dude atau Guy dalam pemakaian ala California juga contoh yang bagus
Menariknya, dalam bahasa Mandarin lisan, bahasa kadang disebut dengan cara yang sama seperti budaya. Misalnya bahasa Mandarin adalah 中文, secara harfiah budaya Tiongkok; bahasa Inggris adalah 英文, dan bahasa Jepang adalah 日文. Akhiran 文 berarti budaya
Ada juga 語 atau 語言 yang berarti bahasa, tetapi ini lebih formal dan tidak mengandung implikasi budaya. Intinya, budaya terikat tak terpisahkan dengan bahasa