3 poin oleh GN⁺ 20 hari lalu | 1 komentar | Bagikan ke WhatsApp
  • Setelah merapikan draf dengan LLM, penulis mengalami tulisan itu dinilai sebagai buatan AI dan ditolak untuk dipublikasikan, yang memunculkan kesadaran tentang masalah keaslian dalam menulis
  • Dulu, penulis tetap bisa menjaga gaya dan alur pikir tanpa AI serta menikmati proses menulis kreatif, tetapi belakangan merasakan menurunnya otonomi dan daya ungkap akibat ketergantungan pada alat
  • Bahkan dalam puisi dan tulisan blog, ungkapan khas AI meresap hingga emosi menghilang dari gaya bahasa, dan saat melihat hasil akhirnya muncul rasa asing: “ini bukan tulisan saya”
  • Tulisan ini ditulis langsung tanpa bantuan AI sebagai ungkapan yang mentah dan apa adanya, dengan menempatkan keaslian dan emosi manusia di atas kesempurnaan
  • Muncul pandangan yang makin luas bahwa kemudahan AI melemahkan otonomi berkarya dan suara diri, dan bahwa menulis dengan menerima ketidaksempurnaan manusia adalah pemulihan sejati atas kreativitas

Kerinduan pada Era Menulis Sebelum AI

  • Disebutkan kasus ketika draf yang dirapikan tata bahasa dan kosakatanya dengan LLM (large language model) dinilai sebagai “tulisan AI” dan ditolak untuk dipublikasikan
    • Penulis menyadari bahwa panduan publikasi memang secara jelas melarang penggunaan LLM
    • Pengalaman ini memunculkan pertanyaan: “mengapa sampai perlu memverifikasi AI?”
  • Di masa lalu, penulis percaya diri dengan kemampuan menulis tanpa alat AI, dan meski bahasa Inggris adalah bahasa keempat, tetap mampu menjaga alur dan gaya draf secara mandiri
    • Grammarly, Quillbot, dan alat sejenis hanya dipakai untuk pemeriksaan tata bahasa sederhana
    • Namun sejak 2023, ketergantungan pada alat AI meningkat dan penulis merasakan penurunan kreativitas serta kemampuan berpikir mandiri
  • Belakangan, penulis merasa bahkan puisi atau tulisan blog pun sulit dibuat tanpa merujuk pada ungkapan AI, dan hasilnya berubah menjadi gaya bahasa yang generik dan kehilangan emosi
    • Setelah menyelesaikan sebuah slam poem, penulis merasa asing dan berpikir, “ini bukan tulisan saya”
    • Ini berbanding terbalik dengan masa lalu ketika puisi yang matang bisa lahir hanya dari satu draf
  • Tulisan kali ini ditulis langsung tanpa bantuan AI maupun alat koreksi, sambil mengakui bahwa mungkin ada kesalahan tata bahasa atau ungkapan yang canggung
    • Namun justru emosi yang mentah itulah yang ditekankan sebagai keindahan hakiki dari menulis
    • Penulis menegaskan bahwa keaslian dan ekspresi manusia lebih penting daripada kesempurnaan
  • Pengalaman draf ditolak di LessWrong justru menjadi momen yang membangunkan kesadaran, dan membawa penulis pada kesimpulan bahwa “meski sedikit salah, lebih benar untuk tetap menjaga suara saya sendiri”
    • Disebutkan bahwa “kesopanan” atau “ketepatan formal” yang ditawarkan AI justru menghapus emosi
    • AI boleh diterima sebagai bagian dari hidup, tetapi otomatisasi cara berpikir dan berekspresi harus diwaspadai

Reaksi komentar

  • testingthewaters

    • Sepakat bahwa gaya AI meresap ke semua tulisan hingga terasa seperti terjebak dalam matriks yang membosankan
  • SonOfIxion

    • Sebagai orang yang menulis sejak 2014, ia mengeluhkan bahwa kesenangan mencipta menghilang setelah AI masuk
    • Ia pernah berkarya dengan NovelAI, tetapi setelah 2025 mengalami hilangnya motivasi dan kreativitas
    • AI tetap berguna, tetapi dalam jangka panjang digambarkan sebagai sesuatu yang mirip racun karena melemahkan dorongan berkarya
  • klaudiagrz

    • Setuju bahwa AI membuat gaya bahasa dan emosi menjadi biasa saja dan kering
    • Di sekitar mereka AI dipandang sebagai inovasi, tetapi dalam penciptaan justru mematikan daya ungkap
  • N. Cailie

    • Meski ikut terlibat dalam riset AI, ia menekankan bahwa setidaknya dalam menulis, suara manusia harus dijaga
    • Ia mengusulkan pendekatan selektif: “kita perlu memilih apa yang harus diotomatisasi dan apa yang harus tetap dilakukan secara manual”
  • vachanmn123

    • Mengaku menjadi cemas bila tidak melewati pemeriksaan AI, yang menunjukkan kebiasaan menulis yang mengikis rasa percaya diri

Pemahaman umum

  • Banyak pengguna sama-sama merasa bahwa kemudahan alat AI telah melemahkan otonomi berkarya dan ekspresi emosi
  • AI memang meningkatkan produktivitas, tetapi dibayar dengan hilangnya ‘suara diri’
  • Menulis dengan menerima ketidaksempurnaan manusia dipandang sebagai jalan untuk memulihkan kreativitas yang sejati

1 komentar

 
GN⁺ 20 hari lalu
Pendapat Hacker News
  • Aku juga setuju dengan poin yang kamu sampaikan. Aku pun jadi sering meminta pendapat AI setiap kali mencoba memikirkan ide baru atau menulis, dan itu menimbulkan kecemasan seolah aku kehilangan kemampuan untuk menilai sendiri. Satu-satunya cara untuk mendapatkan kembali kreativitas adalah dengan menulis, membaca, merevisi, dan mengungkapkannya ulang sendiri. Hal yang sama sekali tidak bisa digantikan AI adalah penyampaian emosi

    • Frasa “keadaan bergantung pada AI sampai tak bisa menilai sendiri” mengingatkanku pada cerpen The Whispering Earring
    • Kalau benar otak itu seperti otot, maka terlalu sering memakai LLM atau chatbot pada akhirnya akan mengarah pada kemunduran kemampuan otak
    • Seorang teman pernah bilang, “sekarang halaman kosong sudah tidak ada lagi,” dan kalimat itu sangat membekas
  • Aku sama sekali tidak memakai AI untuk menulis. Bahkan thesaurus pun terasa seperti ‘curang’; bagiku menulis adalah proses mengeksplorasi dan memurnikan pikiranku sendiri. Kalau itu digantikan AI, rasanya tak jauh beda dengan main game sambil menonton TV. Aku malah sengaja menghindari fitur autocomplete. Orang mudah terjebak dalam pola kebiasaan berbahasa, jadi aku berusaha sadar untuk keluar darinya

    • Menurutku “memakai thesaurus itu bukan curang.” Malah ada risiko memilih kata yang keliru, jadi itu lebih seperti kecurangan kebalikan, tindakan yang justru memperburuk hasil
    • Aku penasaran kenapa mengulang ekspresi yang sama terasa begitu mengganggu
  • Ini bukan bercanda, orang memang perlu membeli buku dan membacanya. Buku-buku lama ditulis hanya oleh tangan manusia (paling dengan bantuan editor)

    • Justru karena AI, aku malah jadi ingin membaca sastra klasik. Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun aku pergi ke toko buku bekas, tapi bukunya tidak ada; sebagai gantinya aku menemukan beberapa buku dari kotak buku gratis kecil di lingkungan sekitar
    • Editor juga tetap manusia. Tentu saja, kecuali anjing editor yang pernah kutemui di sebuah pub kumuh di London pada 1987
    • Membaca majalah atau koran tepercaya juga bagus. Artikel berkualitas tinggi dari The Atlantic atau NY Book Review sangat membantu meningkatkan tata bahasa dan kemampuan menulisku. Buku bukan satu-satunya jawaban
  • Memakai AI untuk penyuntingan itu payah. Untuk brainstorming ide mungkin masih oke, tapi pada level sekarang justru menurunkan kualitas tulisan

    • Aku bekerja di bidang teknis, tapi lemah dalam penulisan dokumen dan komunikasi dengan pemangku kepentingan. Namun berkat AI, aku jadi bisa menyampaikan sesuatu dengan jauh lebih efisien. Untuk tulisan santai seperti di media sosial atau Slack aku menulis sendiri, tapi untuk merapikan ide dan proofreading AI sangat membantu
    • Aku pernah menulis user story untuk proyek yang kompleks bersama AI: aku memasukkan semua konteks yang kupunya lalu membiarkan AI membuat draf awal. Hasilnya, pekerjaan yang biasanya memakan seminggu selesai dalam setengah hari. Tapi yang penting adalah bisa membedakan kapan AI membantu dan kapan AI justru mengganggu
    • Penyuntingan AI sangat baik dalam menangkap blind spot tata bahasa milikku. Tapi aku penasaran bagian mana yang terasa ‘mengalami kemunduran’
    • Editing AI memang berkualitas, tapi masalahnya adalah hilangnya karakter. Kalau semuanya terdengar dengan nada yang sama, daya tarik tulisannya lenyap. Itu berguna untuk dokumen hukum atau teknis, tapi tidak cocok untuk blog
    • Aku hanya memakainya untuk memeriksa ejaan, tata bahasa, dan struktur kalimat. Ide dan diskusi kreatif tetap harus dilakukan sendiri agar bermakna
  • Fitur koreksi tata bahasa di Gmail terasa lebih baik daripada LLM. Ia memperjelas kalimat tanpa banyak mengutak-atik gaya

    • Belakangan koreksi Gmail jadi lebih bagus daripada Grammarly. Mungkin berbasis LLM, tapi perkembangannya luar biasa hanya dalam beberapa bulan
  • Setelah pandemi, aku kehilangan kemampuan menulis dengan ringkas. Jadi aku melakukan free association writing di atas kertas, menandai kalimat yang bagus, lalu mengkritiknya dan menulis ulang dengan tangan sampai lebih rapi. Tulisan tangan secara alami memaksa ungkapan yang ringkas. Kalau diulang 3~4 kali, hasilnya biasanya memuaskan. Obat kreativitas adalah kebosanan dan rutinitas. Kalau kamu benci pengulangan, justru itu bisa menjadi pemicu kreativitas

  • Aku tidak paham kenapa aku harus membaca tulisan yang “sekadar ditulis begitu saja dari isi kepala.” Tulisan seperti ini membutuhkan editor, entah AI atau manusia

    • Sebagian orang memandang menulis sebagai tindakan ekspresi murni dan menolak penyuntingan. Tapi tulisan seperti itu biasanya sulit dipahami. Tulisan yang baik bertujuan pada komunikasi yang jelas
    • Ada juga tulisan yang sengaja menampakkan kesalahan dan konteksnya sebagai bentuk penolakan terhadap gaya AI yang terlalu sempurna
    • Aku paham emosinya, tapi kalimat yang buruk tidak boleh menjadi standar anti-AI. Bahkan pemeriksaan tata bahasa sederhana pun akan banyak membantu
    • Seluruh tulisannya terasa seperti satire. Seolah kesalahan tata bahasanya memang dimasukkan dengan sengaja
    • Pada akhirnya, menulis itu adalah mengedit
  • Kalau aku memasukkan tulisanku ke detektor AI, hasilnya selalu bilang lebih dari 70% kemungkinan ditulis AI. Itu sebenarnya berarti apa?

    • Mungkin karena tulisanmu lebih rapi dari rata-rata. Di internet, bahkan sekadar memakai tanda baca dan huruf kapital dengan benar saja bisa membuatmu terdeteksi
    • Detektor AI tidak akurat
    • Sebenarnya itu berarti kamu menulis lebih baik daripada rata-rata orang
    • Variasi pilihan katanya mirip dengan distribusi rata-rata AI, makanya hasilnya begitu. Itu bahkan bisa dicek dengan menghitung Shannon entropy
    • Tulisanmu sama sekali tidak terasa seperti AI. Justru ada rasa alami tulisan manusia di dalamnya
  • Aku juga merasa sulit saat menulis artikel teknis tentang PostgreSQL untuk membuatnya tidak terdengar seperti LLM. Karena bahasa Inggris bukan bahasa ibuku, batas antara memperhalus kalimat dan mengubah pikiran terasa kabur

    • Bahkan jika kalimat seorang non-native terdengar canggung, di dalamnya tetap ada jejak niat dan proses berpikir, jadi rasanya jauh lebih autentik. Bahasa Inggris cukup toleran, jadi kalau ragu tulislah dengan sederhana
    • Dalam pekerjaan seperti deskripsi PR yang konteksnya sudah dibagikan, usaha untuk ‘tidak terdengar seperti AI’ terasa tidak efisien, jadi aku menyerah
    • Gaya tulisanku memang dari awal sudah terasa seperti LLM, jadi menjaga reputasi jadi lebih sulit
    • Ada juga saran: kalau tidak mau terdengar seperti LLM, jangan membaca tulisan LLM
  • Membiarkan AI menghaluskan kalimat terasa berlebihan. Lebih pas dipakai seperti pemeriksa tata bahasa atau kamus sinonim. Dengan begitu, suara tulisanmu sendiri tetap terjaga. Aku juga kadang bertanya ke AI saat tidak bisa mengingat kata yang tepat

    • “Pengalaman bertanya ke AI tentang kata yang tak kunjung teringat” adalah momen yang sangat memuaskan. Melihat daftar kata yang diajukan AI terasa cukup menyenangkan