2 poin oleh GN⁺ 2023-06-30 | 1 komentar | Bagikan ke WhatsApp
  • Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC), lembaga riset kanker milik Organisasi Kesehatan Dunia, sedang bersiap mengklasifikasikan pemanis buatan aspartam sebagai "kemungkinan karsinogen bagi manusia".
  • Aspartam digunakan dalam ribuan produk di seluruh dunia, termasuk diet cola, es krim, dan permen karet.
  • Klasifikasi IARC berarti ada sebagian kaitan antara aspartam dan kanker, tetapi cakupannya terbatas.
  • IARC sebelumnya dikritik karena memicu peringatan terhadap zat atau situasi yang sulit dihindari.
  • Tinjauan keselamatan IARC tidak mempertimbangkan jumlah produk yang dapat dikonsumsi manusia dengan aman.
  • Komite Ahli Gabungan FAO/WHO untuk Aditif Pangan (Jecfa) juga sedang meninjau penggunaan aspartam dan dijadwalkan mengumumkan hasilnya pada hari yang sama dengan IARC.
  • Aspartam telah digunakan secara luas sejak 1980-an dan telah disetujui penggunaannya oleh regulator di seluruh dunia.
  • Industri makanan menyatakan kekhawatiran dan menegaskan bahwa aspartam aman serta telah diteliti secara menyeluruh.
  • Sudah ada bukti yang menimbulkan pertanyaan tentang risiko kanker dari aspartam.
  • Penting untuk menunggu evaluasi lengkap dari IARC dan kesimpulan Jecfa sebelum menarik kesimpulan yang jelas tentang keamanan aspartam.

1 komentar

 
GN⁺ 2023-06-30
Komentar Hacker News
  • Aspartam dikonsumsi secara luas dalam rantai makanan dan akan sulit menemukan kaitannya dengan kanker.
  • Studi Prancis menunjukkan sedikit peningkatan tingkat kejadian kanker, tetapi studi tersebut tidak mudah diakses.
  • Donald Rumsfeld berperan dalam persetujuan aspartam, dan ada kontroversi terkait penggunaannya dalam pakan hewan.
  • Aspartam dapat menyebabkan kanker dalam kondisi tertentu, seperti tingkat paparan yang tinggi atau penyimpanan yang tidak tepat.
  • Bacon sudah merupakan zat karsinogen yang diketahui, jadi perhatian terhadap pemanis buatan mungkin salah arah.
  • Efek eksternal negatif dari bahan kimia seperti aspartam sering kali baru ditemukan setelah diproduksi massal.
  • Sulit untuk memercayai sains karena keterkaitannya dengan politik dan kepentingan perusahaan.
  • Keterlambatan WHO dalam menyoroti risiko kanker aspartam membuat mereka terlihat tidak efektif.
  • WHO memiliki riwayat merilis hasil yang menimbulkan kebingungan.
  • Ada banyak faktor berbeda yang berpotensi menyebabkan kanker, sehingga sulit menghindari semua risiko.
  • Risiko kesehatan dari gula dan sirup jagung fruktosa tinggi sangat besar, dan aspartam berpotensi menjadi alternatif yang lebih baik.
  • Mengubah kebiasaan dan berfokus pada pengurangan dampak buruk adalah pendekatan yang lebih efektif untuk meningkatkan kesehatan.