-
Penulis saat kecil menghindari matematika dan sains serta tumbuh di jalur sastra, tetapi kini menjadi profesor teknik dan bergelut dengan matematika setiap hari. Mempelajari matematika dan sains saat dewasa memberi penulis jalan masuk ke dunia teknik, sekaligus wawasan tentang plastisitas saraf yang melekat pada pembelajaran orang dewasa.
-
Di Amerika Serikat, fokus pada pemahaman kadang tampak seolah menggantikan metode pengajaran lama yang bekerja selaras dengan proses belajar alami otak seperti mengingat dan pengulangan. Masalah dari hanya berfokus pada pemahaman adalah siswa mungkin dapat menangkap konsep penting, tetapi tanpa penguatan melalui latihan dan pengulangan, pemahaman itu bisa cepat memudar.
-
Ada keterkaitan menarik antara pembelajaran bahasa dan pembelajaran matematika/sains. Inti dari pengembangan keahlian adalah chunking, yakni para ahli menyimpan banyak chunk di memori jangka panjang sehingga dapat memanggilnya ke kesadaran saat menganalisis dan merespons situasi belajar yang baru.
-
Penulis menggunakan strategi yang berfokus pada kefasihan saat mempelajari matematika/teknik, seperti ketika belajar bahasa Rusia. Ia menghafal rumus, membawanya ke mana-mana, dan berlatih, lalu seiring waktu perlahan membangun subrutin saraf yang kokoh.
-
Ia percaya bahwa pemahaman sejati atas topik yang kompleks hanya datang melalui kefasihan. Dalam pendidikan matematika dan sains, mudah terjebak pada metode pengajaran yang menekankan pemahaman sambil menghindari pengulangan dan latihan yang menjadi dasar kefasihan. Jika memiliki kefasihan, pemahaman bisa muncul dengan sendirinya saat dibutuhkan.
Opini GN⁺
-
Penekanan pada pentingnya kefasihan dibanding pemahaman dalam mempelajari bahasa baru atau matematika/sains memberi banyak hal untuk dipikirkan. Kita tahu latihan berulang itu penting, tetapi menarik bahwa hal ini juga berlaku sama bagi pelajar dewasa, dan ada dasar neurosainsnya.
-
Namun, jika hanya menekankan kefasihan, hal itu bisa menjadi pengulangan mekanis yang lepas dari konteks, sehingga tampaknya penting untuk mengembangkan pemahaman konsep, kefasihan, dan penerapan nyata secara seimbang. Baik bahasa maupun matematika, rasanya makin banyak kesempatan penggunaan nyata, makin baik pula motivasi belajar terbentuk.
-
Di lapangan pendidikan, menjauh dari pendidikan hafalan yang berorientasi nilai dan menekankan kelas berbasis diskusi serta proyek memang diinginkan, tetapi pentingnya kefasihan melalui latihan dan pengulangan juga tidak boleh diabaikan. Tampaknya diperlukan pendekatan yang seimbang sesuai tingkat dan gaya belajar tiap siswa.
-
Seperti penulis, berpindah jurusan dari humaniora ke sains/teknik, atau sebaliknya, bukanlah hal yang mudah, tetapi tampaknya layak dicoba. Memasuki bidang baru dapat memberi rangsangan pada otak dan memungkinkan kita mengalami cara berpikir yang baru. Tentu diperlukan strategi belajar yang tepat.
1 komentar
Opini Hacker News
Berikut ringkasan komentar-komentar utamanya:
• Setuju dengan pandangan penulis bahwa "pemahaman tidak menciptakan kelancaran, kelancaranlah yang menciptakan pemahaman". Bahkan teorema Pythagoras pun tidak terasa benar secara intuitif karena wawasan mendalam tentang ruang Euclidean, melainkan setelah banyak latihan hingga saat melihat segitiga siku-siku, tiga pembuktiannya langsung terlintas seketika dan terasa benar secara intuitif.
• Ada dua kategori dalam matematika: A. matematika praktis yang digunakan insinyur, ilmuwan, dan lainnya B. matematika abstrak dan teoretis yang digunakan mahasiswa jurusan matematika dan matematikawan Diragukan apakah pendekatan penulis juga bisa dipakai untuk mempelajari matematika B. Matematika B sulit dipahami seperti Haskell atau pure functional programming. Bisa jadi dipengaruhi faktor genetik, harus dipelajari sejak usia dini, atau memerlukan kurikulum pendidikan formal.
• Setelah masuk sekolah kedokteran, sampai pada kesimpulan serupa tentang nilai hafalan. Dalam ilmu komputer, dulu tidak terlalu menekankan hafalan, tetapi di sekolah kedokteran menjadi sadar bahwa hafalan dalam jumlah besar bukan menggantikan pemahaman konsep, melainkan justru memperkuatnya.
• Penulis terlalu banyak membicarakan dirinya sendiri sehingga tulisannya terasa bertele-tele tanpa kesimpulan. Bahkan setelah membaca ini, tetap tidak terlalu jelas bagaimana cara menjadi mahir matematika dan menyusun ulang otak.
• Penasaran apa pendapat para reformis pendidikan tentang subjudul "yang masih dibutuhkan adalah hafalan dan pengulangan". Itu terasa terlalu konfrontatif dan justru meleset dari inti tulisan ini. Bukankah reformasi pendidikan matematika seharusnya berfokus pada menjauh dari kesibukan semu dan menuju penggunaan matematika yang sebenarnya?
• Di kelas matematika universitas, selalu terasa ada jurang besar antara apa yang kupikir sudah kupahami dan betapa membingungkannya soal-soalnya. Benar-benar mengerjakan soal adalah satu-satunya cara untuk memahami matematika.
• Akan bagus jika sejarah dan filsafat matematika lebih banyak dimasukkan ke dalam pendidikan matematika. Waktu kecil, pelajaran matematika yang hanya berfokus pada perhitungan dan rumus terasa membosankan dan terpisah dari hal-hal yang menarik. Akuntansi juga sama, membosankan saat berdiri sendiri, tetapi terasa menarik ketika dihubungkan dengan sejarah pembukuan berpasangan di Italia dan perdagangan dunia sejak tahun 1500-an.
• Setelah mempersiapkan wawancara FAANG lalu gagal, rasanya satu-satunya cara untuk lolos adalah mengerjakan LeetCode dan menghafal pola pencarian graf, BFS, DFS, pola rekursi, dan sebagainya. Jika memakai keterampilan pemecahan masalah yang alami, bisa butuh berhari-hari untuk menyelesaikan soal LeetCode. Menurut artikel dan industri teknologi, hafalan sama dengan kecerdasan. Selama ini selalu berusaha memahami topik dan menghindari hafalan, tetapi sekarang sindrom impostorku makin parah. Sedang mempertimbangkan untuk secara sukarela keluar dari pekerjaan teknologi yang sekarang, karena takut tidak pantas berada di sekitar orang-orang yang lebih pintar dan berhasil lolos wawancara. Apakah cara wawancara di industri teknologi ini benar?