1 poin oleh GN⁺ 2023-06-30 | 1 komentar | Bagikan ke WhatsApp
  • Mahkamah Agung membatalkan kebijakan affirmative action di universitas yang menggunakan ras sebagai faktor dalam keputusan penerimaan
  • Mahkamah Agung memutuskan bahwa Harvard dan University of North Carolina melakukan diskriminasi ilegal berdasarkan ras dan melanggar Amandemen Ke-14 Konstitusi.
  • Ketua Mahkamah Agung John G. Roberts menyatakan bahwa memperlakukan seseorang secara berbeda berdasarkan ras bertentangan dengan klausul perlindungan yang setara dalam Konstitusi.
  • Para hakim progresif menyampaikan dissenting opinion, dengan menyatakan bahwa pengadilan mengabaikan sejarah rasisme di Amerika Serikat dan memutar balik kemajuan.
  • Akibat putusan ini, universitas harus mengubah kebijakan penerimaan mereka, tetapi tetap dapat mengejar keberagaman dan mempertimbangkan pengalaman rasial pelamar.
  • Dampak putusan ini di California kemungkinan akan terbatas, karena negara bagian tersebut sudah melarang kebijakan penerimaan yang mempertimbangkan ras.
  • Presiden Biden menentang keputusan ini dan mengusulkan panduan baru agar universitas dapat mempertimbangkan kesulitan yang telah diatasi mahasiswa dalam proses penerimaan.
  • Mahkamah Agung juga mengkritik preseden sebelumnya dan mengecam keputusan yang mengizinkan universitas mempertimbangkan ras sebagai faktor positif.
  • Gugatan terhadap Harvard dan University of North Carolina diajukan oleh kelompok bernama "Students for Fair Admissions", yang menuduh adanya diskriminasi terhadap pelamar keturunan Asia-Amerika.
  • Hasil ini disambut kelompok tersebut sebagai kemenangan yang melambangkan pemulihan komitmen hukum yang buta warna.

1 komentar

 
GN⁺ 2023-06-30
Komentar Hacker News
  • Bagi komentator yang bukan berasal dari AS, konsep affirmative action terasa asing.
  • Seorang komentator mempertanyakan mengapa ras menjadi faktor dalam affirmative action dan mengusulkan agar fokusnya adalah membantu orang miskin.
  • Komentator lain, yang berlatar belakang Hispanik, membagikan pengalamannya menerima manfaat dari affirmative action.
  • Mereka mempertanyakan apakah mereka memang layak mendapat kesempatan itu dan mengungkapkan ketidakpastian tentang identitas mereka sendiri.
  • Komentator lain membagikan pengalaman merasa diperlakukan tidak adil setelah terdaftar dalam program teknik untuk minoritas.
  • Mereka mengusulkan pendekatan yang lebih rinci untuk menentukan kesulitan latar belakang, alih-alih hanya bergantung pada ras.
  • Komentator lain menekankan bahwa kebijakan penerimaan Harvard dirancang untuk lebih mengutamakan mahasiswa kulit putih dibandingkan Yahudi, dan kini mendiskriminasi warga Amerika keturunan Asia.
  • Mereka menyebutkan bahwa beberapa universitas sudah menghapus ujian terstandarisasi untuk membatasi penerimaan warga Amerika keturunan Asia.
  • Seorang komentator menjelaskan bahwa affirmative action telah berkembang dari upaya membantu mereka yang mengalami diskriminasi sistematis menjadi fokus pada kesetaraan hasil.
  • Mereka mempertanyakan apakah yang harus diprioritaskan adalah kesempatan yang setara atau hasil yang setara.
  • Komentator lain mengkritik legislasi melalui jalur peradilan dan menyoroti kemungkinan bahwa hukum semacam itu dapat dengan mudah dibalikkan.
  • Mereka mengusulkan agar fokus diberikan pada universitas negeri, community college, dan sekolah kejuruan untuk mendukung mahasiswa berpenghasilan rendah.
  • Komentator itu menekankan pentingnya lembaga-lembaga tersebut dalam menyediakan pendidikan bagi banyak orang.